Kelicikan yang Berubah menjadi Keimanan

Selepas kemenangan kaum muslimin pada perang Badr, banyak diantara kaum Musyrikin Quraisy yang ditawan oleh pasukan kaum Muslimin. Setelah berdiskusi dengan para sahabatnya, Rasulullah ﷺ pun sepakat untuk mengambil tebusan dari kerabat para tawanan. Penduduk Mekkah merupakan orang-orang yang pandai baca-tulis sedangkan penduduk Madinah tidak demikian. Maka bagi mereka yang tidak mampu atau tidak ingin membayar tebusan akan dikirimkan beberapa anak dari kaum Anshar untuk diajari baca-tulis oleh penduduk Mekkah. Apabila mereka sudah pandai baca-tulis, maka itulah tebusannya.

Banyak dari kaum Quraisy yang membayar tebusan untuk membebaskan kerabat mereka. Namun tidak dengan Umair bin Wahb al-Jumahi yang anaknya merupakan salah satu dari kaum Quraisy yang ditawan kaum Muslimin. Setelah mendengar bahwa kaum Musyrikin Quraisy kalah dalam perang Badr dan anaknya ditawan kaum Muslimin melahirkan dendam yang sangat dalam kepada Nabi Muhammad ﷺ. Pada hari ia duduk-duduk berbincang dengan Shafwan bin Umayyah di Hijr Ismail perihal kekalahan kaum Quraisy dan sebagian dari mereka yang ditawan oleh kaum Muslimin. Disaat itu Umair berkata “Demi Allah! Kalau bukan karena hutangku dan keluarga yang aku khawatirkan akan sengsara sepeninggalku nanti, pasti aku sudah menyongsong Muhammad untuk membunuhnya. Karena aku pnya cukup alasan untuk menyongsong mereka, yaitu putraku menjadi tawanan mereka.”

Lantas, hal ini dimanfaatkan oleh Shafwan seraya berkata, “Kalau begitu, biarlah aku yang melunasi hutangmu. Keluargamu akan menjadi tanggung jawabku juga. Tidak ada kata tidak mampu bagiku untuk menanggung mereka.” Umair pun berkata, “Rahasiakanlah apa yang terjadi antara kita berdua.”

“Baiklah.” Jawabnya.

Umair pun menyiapkan pedangnya, mengasahnya hingga sangat tajam, dan bahkan membubuhkan racun pada pedangnya. Ia pun beranjak dari Kota Mekkah ke Kota Madinah menggunakan untanya. Setibanya di Madinah, ia pun mengekang untanya di depan pintu masjid. Melihat kedatangan Umair tersebut, Umar bin al-Khatthab pun memergokinya dan berkata “Musuh Allah ini pasti datang dengan niat jahat.” Umar mengikat leher Umair dengan tali pedangnya sendiri dan beranjak untuk menemui Nabi . Mereka pun menemui Nabi Muhammad ﷺ kemudian Umar berkata “Wahai Nabi Allah, ini musuh Allah, Umair telah datang dengan menghunus pedangnya!”

Beliau menjawab, “Biarkan dia masuk menemuiku!

Maka masuklah Umair dengan dijaga oleh para sahabat. Maka Rasulullah ﷺ pun bertanya, “Apa yang membawa dirimu hingga kemari, Umair?”

Dia menjawab, “Aku hanya datang untuk menemui tawanan yang ada pada kalian (putranya, pent.), karenanya perlakukanlah dia dengan baik.”

Beliau berkata lagi, “kalau begitu untuk apa pedang yang ada di punggungmu itu?

Dia menjawab, “Semoga Allah menjadikannya diantara pedang-pedang yang terburuk, apakah ia masih berarti bagi kami?”

Beliau berkata lagi, “jujurlah padaku, apa yang membuatmu datang kemari?

Dia tetap menjawab, “Aku hanya datang untuk hal tadi.”

Beliau menimpali “Yang sebenarnya adalah kau dengan Shafwan telah berbincang perihal ini dan itu di Hijr Ismail, dan kalian sepakat mengenai urusan ini dan itu.”

Umair pun sangat terkejut ketika mendengar ucapan Nabi Muhammad ﷺ karena semuanya sesuai dengan apa yang terjadi dan dia yakin bahwa hanya ada dirinya dan Shafwan pada saat itu. Seketika Umair pun mengucapkan kalimat syahadat dan mengakui bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan Allah. Lalu Rasulullah berkata, “Ajarkan agama kepada saudara kalian ini, bacakanlah al-Qur’an dna bebaskanlah tawanannya.”

Setelah beberapa waktu Umair menetap di Madinah untuk belajar Islam, akhirnya Umair pun kembali ke Mekkah dan menetap di sana sambil berdakwah mengajak manusia memeluk Islam. Banyak orang memeluk Islam dikarenakan dakwah Umair bin Wahb al-Jumahi.

1 thought on “Kelicikan yang Berubah menjadi Keimanan”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *